Selasa, 23 Oktober 2012

MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM


 MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : NARTO (SABDONARTO@GMAIL.COM)



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dewasa ini perkembangan ilmu manajemen sangat populer tidak hanya pada dunia perusahaan atau bisnis, namun telah merambah pada semua bidang kehidupan tak terkecuali bidang pendidikan.
Manajemen Pendidikan Islam telah memenuhi persyaratan sebagai bidang ilmu pengetahuan, karena telah dipelajari dalam kurun waktu yang lama dan memiliki serangkaian teori yang perlu diuji dan dikembangkan dalam praktek manajerial pada lingkup organisasi.[1]
Sebagai ilmu pengetahuan, manajemen juga bersifat universal, dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan konsep-konsep yang cenderung benar dalam semua situasi manajerial. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan manajemen dapat diterapkan dalam setiap organisasi baik pemerintah, pendidikan, perusahaan, keagamaan, sosial dan sebagainya. Manajemen dibutuhkan oleh setiap organisasi, jika seorang manajer mempunyai pengetahuan tentang manajemen dan mengetahui bagaimana menerapkannya, maka dia akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajerial secara efektif dan efisien.[2]
Ditinjau dari perspektif sistem filsafat, manajemen pendidikan Islam tersebut telah mencakup sisi ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi sebagai obyek pengelolaan, dalam hal ini berupa lembaga (organisasi), dan hal-hal lain yang terkait; epistemologi sebagai cara atau metode pengelolaan, dalam hal ini berupa proses pengelolaan dan cara menyiasati; sedangkan aksilogi sebagai hasil pengelolaan berupa pencapaian tujuan.[3]

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kerangka dasar manajemen pendidikan Islam ?
2.      Bagaimana falsafah manajemen pendidikan Islam ?
3.      Bagaimana teori manajemen pendidikan Islam ?
4.      Bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam ?
5.      Bagaimana praktek manajerial pendidikan islam ?

C.  Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka penulis dapat menentukan tujuan pembahasan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui kerangaka dasar manajemen pendidikan Islam
2.      Untuk mengetahui falsafah manajemen pendidikan Islam
3.      Untuk mengetahui teori manajemen pendidikan Islam
4.      Untuk mengetahui prinsip manajemen pendidikan Islam
5.      Untuk mengetahui praktek manjerial pendidikan Islam

D.  Batasan Masalah
Berdasarkan tujuan pembahasan masalah  tersebut di atas, maka penulis dapat menentukan batasan masalah sebagai berikut :
1.      Kerangka dasar manajemen pendidikan Islam
2.      Falsafah manajemen pendidikan Islam
3.      Teori manajemen pendidikan Islam
4.      Prinsip manajemen pendidikan islam
5.      Praktek manjerial pendidikan Islam.





BAB II
PEMBAHASAN

A.  Kerangka Dasar Manajemen Pendidikan Islam
Shrode Dan Voich menyatakan bahwa Kerangka Dasar Manajemen sebagaimana yang dikutip oleh Nanang Fatah meliputi : “Philossophy, Asumtions, Principles, and Theory, which are basic to the study of any discipline of management”. Secara sederhana dikatakan bahwa falsafah merupakan pandangan atau persepsi tentang kebenaran yang dikembangkan dari berpikir praktis. Bagi seorang manajer falsafah merupakan cara berpikir yang telah dikondisikan dengan lingkungan, perangkat organisasi, nilai-nilai dan keyakinan yang mendasari tanggung jawab seorang manajer. Falsafah seorang manajer dijadikan dasar untuk membuat asumsi-asumsi tentang lingkungan, peran organisasinya, dan dari asumsi ini lahir prinsip-prinsip yang dihubungkan dengan kerangka atau garis besar untuk bertindak. Seperangkat prinsip yang berkaitan satu sama lain dikembangkan dan diuji dengan pengalaman sebelum menjadi suatu teori. Untuk seorang manajer, suatu teori tentang manajemen sangat berfungsi dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul. Oleh karena itu, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, dan teori tentang manajemen merupakan landasan manajerial yang harus dipahami dan dihayati oleh manajer. Keterkaitan cara pandang tentang manajemen, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, serta teori-teori dijadikan dasar kegiatan manajerial, secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : [4]





Kerangka Konsep Dasar Manajemen


Pandangan tentang Manajemen sebagai (Ilmu, Seni, dan Profesi)







Falsafah Manajemen
(Hakekat; Tujuan, Orang, Kerja)





Teori-Teori Manajemen
(Klasik, Neoklasik, Modern)



Prinsip-prinsip Manajemen (MBO, MBP, MBI, MIS)




Praktik Manajerial
1.    Planning
2.     Organizing
3.    Actuating/Leading
4.     Controlling










Sumber-sumber Daya
1.    Manusia
2.     Sarana
3.    Biaya
4.    Teknologi
5.     Informasi










Mutu, Efisiensi, Relevansi dan Kreativitas



Istilah Islam dapat dimaknai sebagai Islam wahyu atau Islam budaya. Islam wahyu meliputi Al-Qur’an dan hadis-hadis nabi, baik hadis Nabawi maupun hadis Qudsi. Sementara itu Islam budaya meliputi ungkapan sahabat nabi, pemahaman ulama’, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan dapat mencakup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya.[5]
Oleh karena itu, pembahasan manajemen pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum muslimin, ditambah kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum. Maka pembahasan ini akan mempertimbangkan bahan-bahan sebagai berikut :
1.      Teks-teks wahyu baik Al-Qur’an maupun hadis yang terkait dengan manajemen pendidikan Islam.
2.      Perkataan-perkataan (aqwal) para sahabat Nabi maupun ulama dan cendekiawan muslim yang terkait dengan manajemen pendidikan Islam.
3.      Realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam.
4.      Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam.
5.      Ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan.
Bahan nomor 1 sampai 4 merefleksikan ciri khas Islam pada bangunan manajemen pendidikan Islam, sedangkan bahan nomor 5 merupakan tambahan yang bersifat umum dan karenanya dapat digunakan untuk membantu merumuskan bangunan manajemen pendidikan Islam. Tentunya setelah diseleksi berdasarkan nila-nilai Islam dan realitas yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam. Nilai-nilai Islam tersebut merupakan refleksi wahyu, sedangkan realitas tersebut sebagai refleksi budaya atau kultur.[6]
Teks-teks wahyu sebagai sandaran teologis; perkataaa-perkataan sahabat nabi, ulama, dan cendekiawan muslim sebagai sandaran rasional; realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam serta kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam sebagai sandaran empiris; sedangkan ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan sebagai sandaran teoretis. Jadi, bangunan manajemen pendidikan Islam ini diletakkan di atas empat sandaran, yaitu sandaran teologis, rasional, empiris, dan teoretis.[7]
Sandaran teologis menimbulkan keyakinan adanya kebenaran pesan-pesan wahyu  karena berasal dari Tuhan, sandaran rasional menimbulkan keyakinan kebenaran berdasarkan pertimbangan akal-pikiran. Sandaran empiris menimbulkan keyakinan adanya kebenaran berdasarkan data-data riil dan akurat, sedangkan sandaran teoretis menimbulkan keyakinan adanya kebenaran berdasarkan akal pikiran dan data sekaligus serta telah dipraktikkan berkali-kali dalam pengelolaan pendidikan.[8]
Adapun contoh-contoh ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, maupun pernyataan sahabat Nabi tersebut dapat diikuti pada pemaparan di bawah ini.
  1. Surah al-Haysr: 18
يا ايها الذين امنوااتقواالله والتنظرنفس ما قدمت لغد وانقواالله ان الله خبيربما تعملون
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[9]
Menurut Muhammad Ali al-Shabuni, yang dimaksud dengan والتنظرنفس ما قدمت لغد adalah hendaknya masing-masing individu memerhatikan amal-amal saleh apa yang diperbuat untuk menghadapi Hari Kiamat.
Ayat ini memberi pesan kepada orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Dalam bahasa manjemen, pemikiran masa depan yang dituangkan dalan konsep dan sistematis ini disebut perencanaan (planning). Perencanaan ini menjadi sangat penting karena berfungsi sebagai pengarah bagi kegiatan, target-target, dan hasil-hasilnya di masa depan sehingga apapun kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan tertib.[10]
  1. Perkataan (qawl) sayyidina Ali bin Abi Thalib
الحق بلا نظام يغلبه البا طل بالنظام
Kebenaran yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”
Qawl ini mengingatkan kita pada urgensi berorganisasi dan ancaman pada kebenaran yang tidak diorganisasi melalui langkah-langkah yang konkret dan strategi-strategi yang mantap. Maka, perkumpulan apapun yang menggunakan identitas Islam-meski memenangi pertandingan, persaingan, maupun perlawanan-tidak memiliki garansi jika tidak diorganisasi dengan baik.[11]
  1. Hadis riwayat al-Bukhari
حد ثنا محمد بن سنا ن حد ثنا قليح بن سليما ن حد ثنا هلا ل بن علي عن عطاء عن يسا ر عن ابى هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا ضيعت الا ما نة فا نتظر السا عة قال كيف اضا عتها يا رسو ل الله ؟ قال اذا اسند الامر الى غير اهله فانتظر السا عة
“(Imam al-Bukhari menyatakan) Muhammad bin Sinan menyampaikan (riwayat) kepada kami, Qulaih bin Sulaiman telah menyampaikan (riwayat) kepada kami, (riwayat itu) dari Atha’, dari Yasar, dari Abu Hurairah ra yang berkata : Rasulullah Saw  bersabda : Apabila suatu amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. (Abu Hurairah) bertanya : Bagaimana meletakkan amanah itu, ya Rasulullah ? Beliau menjawab : Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”.[12]
Hadis ini menarik dicermati karena menghubungkan antara amanah dengan keahlian. Kalimat “Apabila suatu urusan diserahkan kepada seseorang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya” merupakan penjelas untuk kalimat pertama : “Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya.” Hadis ini ternyata memberi peringatan yang berperspektif manajerial karena amanah berarti menyerahkan suatu perkara kepada seseorang yang professional.[13]
Di sini letak pentingnya profesionalisme dalam manajemen pendidikan islami. Islam sangat peduli dengan profesionalisme. Karena itu pula, ketika Nabi Muhammad memberikan tugas kepada sahabat-sahabatnya, beliau sangat memerhatikan latar belakang dan kemampuan sahabat tersebut.
Suatu ketika ada seorang sahabat (Abu Dzar) yang belum mendapat tugas, datang bertanya kepada Nabi Muhammad, mengapa ia tidak mendapat tugas (amanah) sementara sahabat-sahabat yang lain ada yang ditunjuk menjadi gubernur (Mu’adz ibn Jabal), bendahara Negara (‘Umar ibn Khaththab), panglima perang (Khalid ibn Walid), dan sebagainya. Nabi Muhammad mengatakan, “Fisik engkau sangat lemah sehingga tidak sanggup jika dibebani tugas-tugas berat seperti yang diberikan kepada mereka”.[14]
  1. Hadis riwayat Ibnu Majah
حد ثنا العباس بن الوليد الدمشقي حد ثنا وهب بن سعيد بن عطية السلمي حد ثنا عيد الرحمن بن زيد بن اسلم عن ابيه عن عبد الله بن عمرقال قال رسول الله : اعطواالا جيراجره قبل ان يجف عرقه
“(Ibnu Majah menyatakan), al-Abbas bin Walid al-Dimasyqiy telah menyampaikan (riwayat) kepada kami, Wahb bin Sa’id bin ‘Athiyah al-Salamiy telah menyampaikan (riwayat) kepada kami, ‘Abd ar-Rahman bin Zaid bin Aslam telah menyampaikan (riwayat) kepada kami, riwayat itu dari ayahnya, dari Abdullah bin Umar yang berkata, Rasullullah bersabda : Berikanlah gaji/upah pegawai sebelum kering keringatnya”.[15]
Hadis ini memerintahkan kita untuk memberi upah, gaji, insentif, atau honorarium kepada pekerja atau pegawai secepat mungkin (sebelum kering keringatnya). Maksudnya, system penggajian pegawai seharusnya dilakukan secara langsung, tanpa menunggu satu bulan sekali atau satu semester sekali.
Dengan pengertian lain, hadis tersebut berisi pendidikan penghargaan, dan dalam mengelola suatu lembaga, termasuk lembaga pendidikan Islam, penghargaan ini sangat kondusif untuk mewujudkan kepuasan pegawai yang selanjutnya mampu membangkitkan tanggung jawab dan kedisiplinan. Menurut Jamal Madhi, “Kedisiplinan merupakan gizi bagi pekerjaan”.[16]
  1. Surah an-Nsa’ : 35
وان خفتم شقا ق بينهما فا بعثوا حكما من اهله وحكما من اهلها ان يريدا اصلا حا يوفق الله بينهما ان الله عليما خبيرا
Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (orang yang tidak curang dan memelihara rahasia) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang ini bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberikan taufiq kepada suami istri itu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,[17]
                        Inti sari ayat ini adalah mekanisme manajemen konflik. Model pengelolaan konflik menurut ayat ini ditempuh dengan cara melibatkan pihak ketiga sebagai mediator, baik dari keluarga suami maupun dari keluarga istri untuk mewujutkan ishlah (perbaikan) hubungan antara keduanya.
Konflik dalam ayat tersebut terjadi pada keluarga. Ini berarti, ayat tersebut mengajarkan pendidikan bagi keluarga agar rukun kembali. Jika terjadi konflik, lakukan mediasi sesegera mungkin sehingga konflik tidak berlarut-larut yang kelak dapat mengancam keutuhan rumah tangga.[18]
  1. Surah al-Shaff : 2-3
يا يها الذ ين امنوا لما تقولون ما لا تفعلون . كبر مقتا عند الله ان تقولوا ما لا تفعلون
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.[19]
Ayat ini menyentuh persoalan kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan yang sekarang populer dengan istilah konsistensi. Sikap konsisten bagi manajer adalah suatu keharusan sebab dia adalah pemimpin yang dianut oleh bawahannya.[20]
  1. Hadis riwayat Imam Thabrani
ان الله يحب اذا عمل احدكم العمل ان يتقنه
“Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan secara Itqan/profesional(tepat,terarah,jelas dan tuntas).”[21]
Dalam ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur (professional). Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan.
  1. Dimock menyatakan bahwa ”management is knowing where you want to go shalt you must a wid what the forces are with to which you must deal, and how to handle your ship, your  crew affectivelly and without waste in the process of getting there”.[22]
            Kemudian definisi tersebut diterjemahkan oleh A.Sayyid Mahmud Al Hawariy ke dalam bukunya “Al-Idaroh Al-Ushul Wal Ushushil Ilmiyah” sebagai berikut:
الادرة هي معرفة الى اين تذ هب و مهرفة المشاكل التى تجنبها و معرفة الفوي والعوامل التى تنعرض لها كيفية التصرف لك و لبا خرتك والط قم البا خرة و بكخائة وبد ون طيا ع فى مرحلة الذ ها ب الا هنا ك
Manajemen adalah: Mengetahui mana yang dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan apa yang harus dijalankan dan bagaimana mengemudikan kapal anda serta anggota dengan sebaik-baiknya tanpa pemborosan waktu dalam proses mengerjakannya.[23]

B.  Falsafah Manajemen Pendidikan Islam
Setiap jenis pengetahuan termasuk pengetahuan manajemen mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan manajemen tersebut disusun. Ketiganya berkaitan satu sama lain (system). Ontologi ilmu terkait dengan epistimologi, dan epistimologi terkait dengan aksiologi dan seterusnya.[24]
Berdasarkan landasan ontologi dan aksiologi itu, maka bagaimana mengembangkan landasan epistimologi yang sesuai. Persoalan utama yang dihadapi oleh setiap epistimologi pada dasarnya bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi. Demikian juga halnya dengan masalah yang dihadapi epistimologi, yakni bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untuk menjadi masalah mengenai dunia empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan dan mengendalikan peristiwa atau gejala yang muncul. Di dalam pengetahuan manajemen, falsafah pada hakekatnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen. Ini merupakan hakekat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang intelegen. Bagi seorang manajer perlu pengetahuan tentang kebenaran manajemen, asumsi yang telah diakui, dan nilai-nilai yang telah ditentukan. Pada akhirnya semua itu akan memberikan kepuasan dalam melakukan pendekatan yang sistematik dalam praktek manajerial.[25]
Pada sisi lain manajemen dapat juga dipandang sebagai seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang lain (The art of getting done through people), definisi ini mengandung arti bahwa seorang manajer dalam mencapai tujuan organisasi melibatkan orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang telah diatur oleh manajer. Oleh karena itu, ketrampilan yang dimiliki oleh seorang manajer perlu dikembangkan baik melalui pengkajian maupun pelatihan. Karena manajemen dipandang sebagai seni, maka seorang manajer perlu mengetahui dan menguasai seni memimpin yang berkaitan erat dengan gaya kepemimpinan yang tepat dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
Selain manajemen dipandang sebagai ilmu dan seni, manajemen juga dapat dikatakan sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer yang diikat dengan kode etik dan dituntut untuk bekerja secara professional. Seorang professional harus mempunyai kemampuan, sosial (hubungan manusiawi), dan tehnikal. Kemampuan konsep adalah kemampuan mempersepsi organisasi sebagai suatu system, memahami perubahan pada setiap bagian yang berpengaruh terhadap keseluruhan organisasi, kemampuan mengkoordinasi semua kegiatan dan kepentingan organisasi. Kemampuan sosial atau hubungan manusiawi diperlihatkan agar manajer mampu bekerja sama dan memimpin kelompoknya dan memahami anggota sebagai individu dan kelompok. Adapun kemampuan tehnik berkaitan erat dengan kemampuan yang dimiliki manajer dalam menggunakan alat, prosedur dan tehnik bidang khusus, seperti halnya tehnik dalam perencanaan program anggaran, program pendidikan dan sebagainya.
Manajemen dapat dikatakan sebagai profesi karena diperlukan keahlian khusus yang harus dimiliki oleh manajer dan dituntut untuk bekerja secara professional serta mampu menumbuh kembangkan profesionalitasnya baik melalui pendidikan maupun pelatihan. Oleh karena itu, seorang manajer harus membekali diri dengan kemampuan konseptual yang berkaitan dengan planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) serta kemampuan sosial yang mengatur tentang hubungan manusiawi sehingga mampu menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat dalam berbagai situasi dan kondisi, dan kemampuan teknis yang dapat mendukung dalam pelaksanaan program yang dijalankan.[26]
Dalam pengertian ini ada beberapa unsur yang dapat diberikan penjelasan sebagai berikut:
  1. Adanya proses, hal ini menunjukkan bahwa dalam manajemen adanya suatu tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer.
  2. Adanya menata, ini berkaitan erat dengan makna manajemen secara etimologis yaitu to manage yang berarti mengelola, mengatur atau menata.
  3. Adanya upaya untuk menggerakkan, setelah diatur dan ditata dengan baik perlu dilaksanakan secara profesional. Dalam hal ini seorang manajer harus memberikan bantuan, dukungan, dan dorongan agar para staf dan bawahannya bisa bekerja secara profesional.
  4. Adanya sumber-sumber potensial yang harus dilibatkan baik yang bersifat manusia maupun non manusia. Dalam melibatkan sumber daya manusia perlu memperlihatkan keahlian dan profesionalitas, sedangkan sumber daya yang lain juga perlu diperhatikan mutu dan kualitasnya.
  5. Adanya tujuan yang harus dicapai, tujuan yang ada harus disepakati oleh keseluruhan anggota organisasi. Hal ini agar semua sumber daya manusia mempunyai tujuan yang sama dan selalu berusaha untuk mensukseskannya. Dengan demikian tujuan yang ada dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas dalam organisasi.
  6. Tujuan harus dicapai secara efektif dan efisien. Hal ini dimaksudkan agar para staf organisasi berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati dalam organisasi.[27]

C.  Teori Manajemen Pendidikan Islam
Teori manajemen mempunyai peran (role) atau membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas, dan kepuasan(satisfaction). Karakteristik teori manajemen secara garis besar dapat dinyatakan : 1) mengacu pada pengalaman empirik, 2) adanya keterkaitan antara satu teori dengan teori lain, 3) mengakui kemungkinan adanya penolakan.[28]
Di dalam proses manajemen digambarkan fungsi-fungsi manajemen secara umum (general) yang ditampilkan ke dalam perangkat organisasi dan mulai dikenal sebagai teori manajemen klasik. Menurut teori klasik pilar-pilar manajemen klasik terdiri dari 4 pilar, yaitu : pembagian kerja, proses skalar fungsi-fungsi, struktur, tentang pengawasan.[29]

D.  Prinsip Manajemen Pendidikan Islam
Pentingnya prinsip-prinsip dasar dalam praktik manajemen antara lain : 1) menentukan cara/metode kerja; 2) pemilihan pekerja dan pengembangan keahliannya; 3) pemilihan prosedur kerja; 4) menentukan bata-batas tugas; 5) mempersiapkan dan membuat spesifikasi tugas; 6) melakukan pendidikan dan latihan; 7) menetukan sistem dan besarnya imbalan. Semua itu dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas kerja.[30]
Dalam kaitanya dengan prinsip dasar manajemen, Fayol mengemukakan sejumlah prinsip seperti yang dikutip oleh Nanang Fatah, yaitu : pembagian kerja, kejelasan dalam wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, lebih memprioritaskan kepentingan umum/organisasi daripada kepentingan pribadi, pemberian kontra prestasi, sentralisasi, rantai skalar, tertib, pemerataan, stabilitas dalam menjabat, inisiatif, dan semangat kelompok. Keempat belas prinsip dasar tersebut dijadikan patokan dalam praktik manajerial dalam melakukan manajemen yang berorientasi kepada sasaran (Management by Objectives {MBO}), manajemen yang berorientasi orang (Managemnet by People {MBP}), manajemen yang berorientasi kepada struktur (Management by Technique {MBT}), dan manajemen berdasarkan informasi (Management by Information {MBI}) atas Management Information System {MIS}.[31]

E.  Praktik Manajerial Pendidikan Islam
Praktik manajerial adalah kegiatan yang dilakukan oleh manajer. Apabila manajemen dipandang sebagai serangkaian kegiatan atau proses, maka proses itu akan mencakup bagaimana cara mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai sumber untuk mencapai tujuan organisasi (produktivitas dan kepuasan) dengan melibatkan orang, teknik, informasi, dan struktur  yang telah dirancang. Kegiatan manajerial ini meliputi banyak aspek, namun aspek utama dan sangat esensial yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).[32]
Banyak sumber daya manajemen yang terlibat dalam organisasi atau lembaga-lembaga termasuk lembaga pendidikan, antara lain: manusia, sarana dan prasarana, biaya, teknologi, dan informasi. Namun demikian sumber daya yang paling penting dalam pendidikan adalah sumber daya manusia. Bagaiman manajer menyediakan tenaga, bakat kreativitas, dan semangatnya bagi organisasi. Karena itu tugas terpenting dari seorang manajer adalah menyeleksi, menempatkan, melatih, dan mengembangkan sumber daya manusia. Persoalannya pengembangan sumber daya manusia mempunyai hubungan yang positif dengan produktivitas dan pertumbuhan organisasi, kepuasan kerja, kekuatan dan profesionalitas manajer.[33]
Yang dimaksud dengan sumber daya manusia , menurut Shetty dan Vernon B. Bucher yang dikutip oleh Nanang Fatah, terkandung aspek : kompetensi, keterampilan/skill, kemampuan, sikap, perilaku, motivasi, dan komitmen.[34]
Persoalan pokok dalam pembinaan tenaga kependidikan adalah pembinaan etos kerja. Etos kerja adalah sikap mental untuk menghasilkan produk kerja yang baik, bermutu tinggi. Etos kerja dipengaruhi oleh variabel sikap, pandangan, cara-cara, dan kebiasan-kebiasan kerja yang ada pada seseorang, suatu kelompok, atau bangsa. Pembinaan etos kerja ini merupakan bagian dari pembinaan tata nilai (value system), dan dalam dunia pendidikan masalah ini tidak cukup diperhatikan. Pada pengembangan mutu SDM ini yang paling banyak dilakukan pembinaan keterampilan untuk melakukan sesuatu yang nyata seperti keterampilan komputer, menjahit, akuntansi, dan sebagainya. Akan tetapi membentuk keinginan bagaimana melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sebaik-baiknya kurang diperhatikan. Tentunya hal ini hanya dapat terwujud jika kemampuan menghasilkan sesuatu yang bermutu itu ditunjang oleh etos kerja , motivasi tinggi untuk berprestasi. Bagaimana caranya memupuk etos kerja. Salah satu usaha dengan menciptakan suasana kerja yang mengantarakan perilaku karyawan/guru ke arah yang lebih produktif secara langsung mengubah sikap, pandangan, harapan dan keterampilan/keahlian yang lebih efektif dan efisien.[35]
Paradigma keilmuan manajemen pendidikan Islam melalui wahyu, hadis Nabi maupun perkataan sahabat memberikan inspiratif-kreatif dalam membangun konsep ilmiah. Namun kaidah manajemen pendidikan yang terdapat dalam literature dan dipengaruhi oleh pemikiran dan pengalaman orang Barat harus adaptif-selektif.
Oleh karena itu, dibutuhkan para peramu atau peracik bahan-bahan tersebut menjadi formula-formula teoretis yang kemudian bisa diaplikasikan. Jika berhasil dengan baik, langkah berikutnya adalah disosialisasikan dan dipublikasikan pada masyarakat luas agar cepat tersebar.[36]
Sungguh, tradisi berpikir teoretis berorientasi pada keilmuan dan tentu memotivasi dinamika keilmuan atau dinamika peradapan,  maka jangan berhenti hanya hafal konsep-konsep manajemen pendidikan Islam secara normatif saja, tanpa mengaplikasikan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.    Kerangka dasar manajemen pendidikan Islam yaitu falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, dan teori.
2.    Falsafah manajemen pendidikan Islam adalah menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen.
3.    Teori manajemen pendidikan Islam melingkupi pembagian kerja, proses skalar fungsi-fungsi, struktur, tentang pengawasan.
4.    Prinsip manajemen pendidikan Islam yakni pembagian kerja, kejelasan dalam wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, lebih memprioritaskan kepentingan umum/organisasi daripada kepentingan pribadi, pemberian kontra prestasi, sentralisasi, rantai skalar, tertib, pemerataan, stabilitas dalam menjabat, inisiatif, dan semangat kelompok.
5.      Praktik manajerial pendidikan Islam adalah perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).

B.  Saran
  1. Mari kita aplikasikan konsep-konsep manajemen pendidikan tersebut dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam atau organisasi masing-masing.
  2. Janganlah hanya menghafal konsep-konsep tersebut, karena hal itu merupakan tradisi berfikir normatif yang akan berujung pada stagnasi (kemandekan) berfikir.
  3. Aplikasikan konsep tersebut dengan berfikir teoretis sebagai pembangkit peradapan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahan, Lembaga Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd, 1418 H
Dimock, The Executive in Action, (New York : Harver and Bross,1954)
Hermawan Kertajaya, Muhammad Syakir Sula. Syariah Marketing (Jakarta: Mizan,2008)
Marhum Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Mukhtarul Ahaadis wa al-hukmu al-Muhammadiyah, (Surabaya : Dar an-Nasyr-Misriyyah,tt)
Muahammad bin Yazid Abu Abdillah al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Jilid II (Beirut: Dar al-Fikr,tt)
Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukharyal-Ja’fi, al-Jami al-Shahih al-Muhtashar, Jilid I, (Beirut: Dar ibn Katsir, 1987/1407)
Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga)
Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008)
Prim Masrokan Mutohar, Diktat kuliah Manajemen Pendidikan, (Tulungagung STAIN, 2005)
Sayyid Mahmud al-Hawariy, al-Idarah al-Ushul wa Ususul Ilmiyah, (Kairo,tt)
Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam(Surabaya : elKAF,2006),

























A
ش
K
ن
U
ع
?
ظ
B
لا
L
م
V
ر
:
ك
C
ؤ
M
ة
W
ص
ط
D
ي
N
ى
X
ء
~
ذ
E
ث
O
خ
Y
غ


F
ب
P
ح
Z
ئ
J
ت
G
ل
Q
ض
< 
و
H
تا
H
ا
R
ق
> 
ز
X.SIF
تاْ
I
ه
S
س
{
ج


J
ت
T
ف
}
د





[1] Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam(Surabaya : elKAF,2006), 5
[2] Prim Masrokan Mutohar, Diktat kuliah Manajemen Pendidikan, (Tulungagung STAIN, 2005), 2
[3] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 12-13

[4] Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya : 2008), 9-10


[5] Ibid, 15
[6] Ibid, 16
[7] Ibid, 16
[8] Ibid, 7
[9] Q.S al-Haysr : 18
[10] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 30
[11] Ibid, 31
[12] Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukharyal-Ja’fi, al-Jami al-Shahih al-Muhtashar, Jilid I, (Beirut: Dar ibn Katsir, 1987/1407),  33
[13] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 32
[14] Hermawan Kertajaya, Muhammad Syakir Sula. Syariah Marketing (Jakarta: Mizan,2008), 49-50
[15] Muahammad bin Yazid Abu Abdillah al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Jilid II (Beirut: Dar al-Fikr,tt), 817

[16] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 33
[17] Q.S. al-Nisa’ : 35
[18] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 33
[19] Q.S. as-Shaff : 2-2
[20] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 35
[21] Marhum Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Mukhtarul Ahaadis wa al-hukmu al-Muhammadiyah, (Surabaya : Dar an-Nasyr-Misriyyah,tt), 34
[22] Dimock, The Executive in Action, (New York : Harver and Bross,1954), 17
[23] Sayyid Mahmud al-Hawariy, al-Idarah al-Ushul wa Ususul Ilmiyah, (Kairo,tt), 569
[24] Ibid. 11
[25] Ibid, 11
[26] Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam(Surabaya : elKAF,2006), 5-7
[27] Ibid, 8
[28] Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),11
[29] Ibid, 11
[30] Ibid, 12
[31] Ibid, 12
[32] Ibid, 13
[33] Ibid
[34] Ibid
[35] Ibid, 14
[36] Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya : Erlangga), 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar